about me
Crazy …
Impossible…
Ajaib…
Tidak Mungkin…
Dan sederet ungkapan sinis dan pesismis dari berbagai pihak. Itulah reaksi yang diterima oleh seorang Rahmat Abubakar ketika pertama kali mengungkapkan mimpinya bahwa ia bercita-cita memiliki Pesantren Gratis Untuk Kaum Dhu’afa, Yatim, dan Mua’alaf.
Selain itu, hampir setiap hari Debt Collector datang untuk menagih. Bahkan pernah suatu hari, sekali datang rombongan debt collector sampai berjumlah 6 orang. Dibentak, dicaci maki, bahkan diancam mau dibunuhpun pernah dialami oleh seorang Rahmat dan keluarganya. Yang lebih tragis, kejadian yang tidak pernah ia lupakan adalah saat anak gadisnya yang saat itu baru kelas 2 SMP sedang mengerjakan tugas sekolah menggunakan komputer bututnya. Tiba-tiba datanglah seorang debt collector yang menagih sambil berteriak-teriak dan mengancam akan menyita komputer yang sedang dipakai anak gadis nya.
Putrinya gemetar dan ketakutan sambil berkata penuh haru :” Ayah, … tolong jangan diambil sekarang komputernya. Tugas saya belum selesai dan harus segera diserahkan ke Bu Guru.” Orang tua mana yang tidak tersayat hatinya mendengar rintihan anak gadis nya saat itu. Dan entah berapa puluh kali Rahmat dipanggil pihak sekolah karena anak-anaknya belum bayar SPP. Kejadian yang juga sangat memukul perasaan saat itu adalah ketika mendapati anaknya mengikuti test kenaikan kelas di sekolahnya tetapi di karantina ( tidak digabung dengan teman-tmannya) karena belum bayar SPP. Saat itu hati Rahmat terasa sesak dan perih seraya berkata lirih, “ Ya Allah taqdirkan saya bisa menolong hamba-hambamu yang tidak bisa sekolah, sungguh saya tidak sanggup melihat beban anak-anak, yang karena ujian yang sedang dialami orang tuanya, anak-anak mendertia batinnya “
Untuk bisa bertahan hidup, Rahmat ikut bekerja bersama seorang teman sewaktu SMA. Awalnya ingin jadi tenaga Marketing. Berhubung posisi marketing sudah ada yang ngisi, maka ia untuk sementara waktu menjadi kenek truk. Dalam kondisi yang sangat mengharu biru tersebut, ingatan Rahmat melayang ke masa lalu saat masih kecil dan juga di pesantren. Saat itu ia begitu dekat dengan Allah, dan juga dekat dengan para kyai.
Terlahir ke dunia dari keluarga yang sederhana, di sebuah desa Kabupaten Cilacap ia sudah terbiasa membantu meringankan beban kedua orang tuanya. Rahmat kecil yang lebih suka tidur di Masjid dari pada tidur di rumah, sejak SD sudah latihan berjualan. Setiap hari libur jualan es keliling, musim kemarau jualan burung, dan jika Ramdhan tiba ia jualan kembang api & petasan. Kebiasaan luar biasa ini terus berlanjut ketika melanjutkan ke jenjang MTs. Rahmat dengan membawa bungkusan sarung yang berisi pakaian ( karena tidak mampu membeli tas), ia melangkah meninggalkan kampung halamannya dan kedua orang tuanya, bertekad melanjutkan sekolah di SMP/ MTs sambil nyantri di desa lain. Karena kiriman orang tua tidak mencukupi maka untuk menyambung biaya pendidikan, ia menjadi santri dalem ( bantu-bantu Pak kyai, dari mulai nyapu, cuci piring, cuci baju sampai urusan kebun dan sawah ), sehingga urusan makan dijamin Pak kyai.
Tamat dari MTs , ia melanjutkan ke jenjang SMA di Kabupaten lain sambil tetap nyantri. Karena kiriman orang tua yang sangat minim, maka selama 6 bulan ( semester pertama ) ia tidak bisa bayar SPP. Bahkan untuk beli sabunpun uang tidak ada dan nyaris selama 6 bulan, mandi tanpa memakai sabun ( karena kiriman dari orang tua hanya cukup untuk biaya asrama saja).
Alhamdulillah, setelah melewati berbagai seleksi dan prestasi yang ia miliki , akhirnya di semester ke-2 Rahmat mendapat bea siswa dari Departemen Agama Indonesia (P2A), selama 3 tahun berturut-turut ( dari kelas 1 s/d kls 3 SMA). Sesuai informasi yang beredar di sekolah dan pesantren, bahwa anak-anak penerima bea siswa dan punya prestasi yang memuaskan, akan mendapatkan bea siswa kembali untuk melanjutkan kuliah ke Timur Tengah . Berbunga-bungalah hati seorang anak bernama Rahmat saat itu, karena disamping ia juara umum terus menerus selama 6 semester di sekolahnya ia juga peraih juara siswa teladan SMA tingkat Kabupaten. Seakan masa depan sudah didepan matanya.
Tetapi ternyata taqdir berkata lain. Saat ia tamat dari sekolah tersebut, program bea siswa untuk belajar di luar negeri sudah dihentikan. Karena peluang mendapatkan bea siswa sudah tidak ada maka ia putuskan untuk mengurnkan niatnya untuk kuliah karena untuk biaya kuliahpun tidak punya. Sekalipun ia tidak dapat melanjutkan kuliah, ia tetap berkomitmn untuk mengejar impian besarnya agar bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Oleh sebab itu, setamat SMA tahun 1985, ia merantau ke Jakarta dan menjadi Marbot Masjid / Cleaning Service di sebuah Masjid Komplek Perumahan Bea & Cukai Rawamangun Jakarta.
Di tengah kesibukannya sebagai petugas Marbot Masjid, Rahmat juga ikut organisasi remaja Masjid, tempat ia menjadi marbot, dimana anggota remaja masjid tsb adalah mahasiwa. Rahmat tidak canggung bergaul dengan mahasiswa meski ia hanya seorang marbot masjid, karena sebelumnya ia pernah menjabat ketua OSIS dan wakil ketua santri saat masih SMA. Kebiasaanya membaca juga terus dikembangkan, dengan sesekali mendatangi toko buku yang ada di sekitar tempat ia bekerja, dengan minta izin pada penjaga toko buku, untuk bisa membaca buku yang tidak di segel. Ada tiga buku motivasi yang sangat menginspirasi dirinya saat itu yakni buku yang berjudul “Sukses Lebih Mudah Daripada Gagal, Cara Mencari Kawan & Mempengaruhi Orang Lain, Dan Memperkuat Kemauan”. Seakan ketiga buku tersebut menjadi amunisi bagi seorang Rahmat yang sedang terpuruk untuk tetap mampu bangkit meraih impiannya walau tidak kuliah.
Menjadi marbot Masjid ia jalani hanya sekitar 6 bulan. Tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 21 yaitu bulan Pebruari 1986 ia diterima menjadi karyawan di sebuah peusahaan Pharmasi, dengan jabatan staf umum. Untuk menunjang kariernya sebagai karyawan ia aktif mengikuti berbagai training dan juga kuliah. Setelah mengabdi selama 7 tahun di perusahaan tersebut dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Bagian Logistik, Rahmat mengundurkan diri untuk memulai babak baru yaitu mandiri dengan membuka usaha sendiri. Ia pernah menikmati kejayaan bisnis hingga akhirnya terpuruk di tahun 2004.
Oleh sebab itu, tidak mengherankan ketika ia jatuh dan harus mulai dari nol lagi sebagai kenek truk, ia jalani profesi baru ini dengan rasa percaya diri yang luar biasa dan tanpa minder sedikitpun. Mulailah ia menjalani babak kehidupan baru dengan manajemen langit. Ia mulai aktif silaturahim ke beberapa ulama dan para kyai untuk minta bimbingan agar bisa keluar dari keterpurukan. Entah kebetulan atau tidak, hampir semua ulama yang didatangi memberi kunci jawaban yang sama, yaitu, “ Putuskan harapanmu kepada makhluk dan gantungkan harapanmu hanya kepada Allah, karena Allah tidak pernah mengecewakan, dan jangan lupa terus tingkatkan taqwamu. Perbanyaklah silaturahim, bersedekah dalam keadaan lapang dan sempit , tegakkan shalat malam dan maafkan orang-orang yang telah menyakitimu “ demikian petuah para ulama yang diberikan kepada Rahmat, sambil mengutip sebuah ayat yang berbunyi :” Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. ( QS. 65 : 2-3).
Tiba-tiba Rahmat tersadar, seakan menemukan Kunci Sukses Yang Hilang yaitu “Perbaiki taqwamu, rubah dari manajemen bumi ke manajemen langit”. Tanpa membuang waktu, ia mulai membangun silaturahim, mengunjungi siapapun yang ia kenal, teman kerja dulu, teman sekolah, tetangga jauh, saudara, dll, dengan tetap menghindari berkeluh kesah kepada makhluk.
Ternyata hal tersebut terbukti. Asbab silaturahim inilah, akhirnya berbagai ilmu didapatnya, dari mulai Ilmu Bekam, Meracik Herbal, Ilmu Ruqyah, Pijat Getar Syaraf, Metode 4 Jam Bisa Baca Al Qur’an , SEFT, dll. Mulailah Rahmat dengan kesibukan dan profesi baru, kadang sebagai Terapis Bekam, kadang sebagi Guru Ngaji 4 Jam Bisa Baca Qur’an dan sedikit demi sedikit mulai ceramah motivasi dan inspirasi, dan terkadang juga sebagai Peruqyah.
Sambil terus mengerjakan profesi barunya ia mengikuti saran gurunya, agar terus berbagi dalam keadaan lapang dan sempit. Mulailah Rahmat mendirikan Pusat Pemberdayaan Ummat An-Nahl sebagai wadah untuk membantu para pemulung, tukang becak, kaum dhuafa, dll untuk diajar menngaji dan dibagi sedikti uang setiap kali mengaji ( sekitar 10,00 rupiah sebagai pengganti hasil kerja mereka). Dari mengurus pemulung berkembang menjadi Panti Yatim & Dhu’afa lalu menjadi Rumah Qur’an. Kemudian menjadi Rumah Didik Terpadu dengan tempat berpindah-pindah, dan entah berapa kali mengalami kesulitan membayar kontrakan untuk panti, walau akhirnya selalu ada jalan keluar.
Seiring berjalannya waktu, segala upaya dan usahanya mulai tampak hasilnya. Akhirnya tepat bulan Maret 2013 ia dibantu beberapa sahabatnya mampu membebaskan lahan di Bogor seluas 5.000 M2. Diatas lahan yang terletak di Kampung Pasar Kemis Desa Gunung Picung, Kec. Pamijahan Kab. Bogor inilah kemudian dibangun Pesantren Pemberdayaan Ummat An-Nahl. Pesanten ini gratis dan khusus untuk Yatim, Dhu’affa dan Muallaf, yang santrinya berasal dari bebagai daerah, khususnya dari pedalaman Tobadak Sulawesi Barat, Kalimantan, NTT, dll. Saat ini lahan pesantren sudah mencapai + 3 ha dan sudah berdiri bangunan seperti masjid, gedung asrama, ruang belajar, rumah para ustadz, aula, saung, kolam ikan, dll. Selain itu, terdapat tanaman 100 pohon durian yang berada di lahan kebun yang masih kosong. Saat ini jumlah santri yang sedang mengenyam pendidikan di Pesantren PPU An Nahl berjumlah 100 anak, dari tingkat SMP dan SMA. Disamping para santri belajar formal, kepesantrenan , mereka juga belajar kemandirian seperti bidang pertanian, perikanan , otomotif, dll. Selain Pesantren, terdapat 250 anak yang sedang mengenyam pendidikan di Rumah Qur’an An-Nahl yang terletak di Cabang Bungin.
Untuk membiayai pesantren pemberdayaan umat tersebut, beberapa divisi usaha juga sudah ia rintis bersama team seperti Usaha Potong Ayam, Konveksi, Madu, dan Property.
Berawal dari keadaan bisnis yang bangkrut dan bertekad untuk bangkit kembali serta rasa kepedulian yang kuat untuk berbagi inspirasi dan motivasi kepada orang lain. Pada akhirnya, ia telah berhasil meraih banyak pencapaian. Kini, seorang Rahmat Abubakar lebih dikenal sebagai tokoh pemberdayaan umat dengan berbagai motivasi Islami yang inspiratif. Berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta juga sudah menjadi langganan inspirasi dan motivasinya, seperti Departemen Luar Negeri, Bank BTN, Telkom, TASPEN, Jasa Marga, Auto 2000, Pelindo II, dll. Berbagai Negara pun sudah pernah dijelajahinya untuk berbagi motivasi dan inspirasi Islami seperti Singapura, Turki, Belgia, Belanda, Swedia, Jerman, dan sebagainya.
EROPA
BELANDA
BELGIA












